JKT PLAY - Bike Hopping

Posted: Wednesday, June 21, 2017 | Posted by Albertus Prawata | 0 comments

Bike Hopping merupakan suatu kegiatan yang digagas oleh penggerak JKT Play, Rony Rahardian (Onik) dan saya sendiri, Albertus Prawata (Berto). Bersepeda merupakan suatu cara bagi saya dan Onik untuk mengeksplorasi ide-ide dan juga sebagai wadah untuk mengekspresikan diri melalu sepeda yang kami gunakan.

Onik menyatakan bahwa, “Bike hopping menjadi alasan kami bersepeda, untuk mengunjungi tempat kuliner ataupun sekedar mengunjungi ke tempat kerja dan studio teman, galleri dan karya-karya desain lainnya, atau hanya sekedar untuk menyapa halo. Alasan ini yang mendasari JKT Play untuk mengajak teman-teman bersepeda. Tidak peduli apapun alasannya apakah hanya untuk kesehatan, pergaulan atau hanya sekedar mencari tempat kopi dan makan. Kami mengajar teman-teman untuk bergerak.”

 Dari kegiatan ini kami menemukan suatu kesenangan dan kepuasan tersendiri. Kami berdua bergerak pada industri kreatif, mengunjungi studio rekan dan galeri-galeri desain menjadi suatu penyegaran dan pembelajaran baru bagi kami. Tidak lupa dengan mengunjungi tempat-tempat kuliner baru dengan bersepeda memberikan suatu semangat baru. Kami pun aktif menggunakan moda transportasi sepeda. Sepeda merupakan salah satu hobby bagi kami. Saya sendiri masih sangat ingat dengan sepeda BMX dan juga sepeda gunung saya sewaktu saya duduk di bangku SD. Begitu senangnya bersepeda sore-sore sepulang sekolah dan setelah selesai belajar. Bersepeda menjadi suatu “pelarian” sesaat yang menyenangkan. Sedangkan bagi Onik, bersepeda sepertinya sudah menjadi gaya hidup yang secara konsisten ia lakukan melalui bersepeda untuk meeting yang ia lakukan dengan kliennya. Melalui sepeda kami juga dapat berekspresi dengan menunjukan pribadi kami masing-masing pada sepeda kami. Dengan demikian, sepeda menjadi bagian yang tidak lepas dari perjalan dan proses kreatif kami berdua.

Kami berdua berkarya di kota Jakarta. Kota ini menjadi suatu wadah bagi kami untuk berproses secara kreatif, dan salah satu hasil prosesnya adalah dengan lahirnya JKT Play. Bersepeda di kota Jakarta bukanlah suatu kegiatan yang mudah dan menyenangkan. Dimulai dari iklimnya, tidak ada jalur sepeda yang aman, dan tidak terhubung dengan baik menjadi alasan-alasannya. Saya yakin pembahasan terkait hal ini akan sangat panjang dan tidak akan cukup dibahas secara singkat (Mungkin bisa menjadi pembahasan di lain waktu). Tentunya di Jakarta kami sudah pernah melakukan perjalan dengan sepeda untuk sekedar makan, bertemu teman dan bertukar pikiran. Kegiatan tersebut tentunya memberikan suatu energi positif bagi kami berdua. Lalu, bagaimana kalau kegiatan ini dilakukan di kota lain? Kami yakin, aura positifnya akan berlipat-lipat. Kami dapat menjumpai teman baru dengan konteks dan lokasi yang berbeda. Kami dapat menjumpai karya-karya baru secara langsung yang belum pernah kami kunjungi, dan tentunya kami dapat mencicipi makanan dan tempat-tempat baru. Atas dasar inilah kami cenderung menjadikan kegiatan bike hopping dilakukan di kota-kota lain.

Selain di Jakarta, bike hopping ini sudah pernah kami lakukan di Yogyakarta dan Bali. Kami merasakan hal yang sama terkait dengan panas, lembab, polusi dan banyaknya keringat yang berkucuran pada saat bersepeda di Jogja, Bali dan Jakarta, tidak ada bedanya. Tetapi ada suatu semangat dan suasana baru yang muncul, dan inilah yang menjadikan bersepeda di Jogja dan Bali menjadi berbeda. Pemandangan baru pada saat bersepeda, bertemu dengan teman-teman baru, menemukan tempat makan baru, mengunjungi karya-karya arsitektur baru dan mendapatkan pengalaman baru untuk bekal kami dalam berkarya nanti pada saat kembali ke ibukota. Hal tersebut menjadikan bike hopping sangat menyenangkan bagi kami berdua.

Pada sisa kurun waktu 2017 ini, kami berencana kembali melakukan bike hopping ke Singapura dan Bandung. Kami sangat senang apabila ada teman-teman yang bisa bergabung ataupun mendukung perjalanan ini, dan dapat menjadi bagian besar dalam kegiatan JKT Play. Ayo kita bergerak…| Albertus Prawata.

Sketsa Perancangan Arsitektur

Posted: Tuesday, April 28, 2015 | Posted by Albertus Prawata | Labels: , , 1 comments


Sketsa Perancangan Arsitektur merupakan sebuah karya buku hasil sebuah proses perjalanan panjang dari sekitar tahun 2011 sampai dengan tahun 2015. Bermula dari kegiatan mengajar kelas studio perancangan arsitektur di tahun pertama perkuliahan, datanglah sebuah keinginan untuk bisa mencatat semua masukan dari proses kegiatan belajar tersebut. Mengajar mata kuliah studio perancangan arsitektur di tahun pertama bukan merupakan suatu hal yang mudah. Banyak mahasiswa yang terkejut dan kesulitan mengikuti pola hidup baru di jenjang pendidikan tinggi, terutama dalam mengikuti perkuliahan studio perancangan yang merupakan tulang punggung/ core di jurusan arsitektur. Setiap semester berlalu saya selalu mendapatkan hal-hal baru, saya banyak belajar dari rekan dosen dan juga mahasiswa di mata kuliah yang saya ampu ini. Proses belajar mengajar tersebut saya coba catat dan tulis dalam sebuah tulisan-tulisan pendek, dan saya bukukan dalam karya ini. 

Dalam proses penulisan dan pencatatan tersebut, saya sadar bahwa bentuk catatan ini harus bisa disertai dengan visualisasi dan grafis yang menarik agar calon pembaca dapat semakin mudah memahami apa yang saya tuliskan. Hal ini memberikan sebuah kesempatan untuk kembali berkolaborasi dengan teman kuliah dahulu, Ambia Kamil. Disapa dengan nama Ayi, ia adalah teman kuliah di jurusan arsitektur Universitas Parahyangan, Bandung. Semasa kuliah, Ayi seringkali menggambarkan komik, yang kebanyakan adalah komik gambar dirinya terkait dengan kegiatan yang sedang ia lakukan saat itu. Secara cepat saya tidak berpikir panjang lagi, Ayi adalah orang pertama yang saya tawari untuk menggarab proyek ini. Saya menulis, dan dia menggambar. Berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil, ia diberikan tanggung jawab yang sangat besar pada waktu proses pembuatan buku ini. Proyek kampung deret Petogogan di Jakarta Selatan itu merupakan salah satu proyek besarnya yang ia garap. Karena itu, banyak waktu lembur yang ia habiskan di kantor sehingga ia tidak bisa 100% menyelesaikan visualisasi dan grafis di buku ini. Mitos PNS pulang jam 4 sore pun menjadi bualan belaka saja, dimana Ayi seringkali meninggalkan kantor diatas jam 10 malam, dan baru bisa “mencuri” waktu menggambar setelah jam kantornya tersebut. Sekarang ia sedang menempuh pendidikan lanjut Magister Urban Design di ITB, Bandung. Dengan nama belakangnya yang ia miliki, seperti rekan abdi negara pendahulunya, saya percaya suatu saat nanti ia punya kesempatan untuk menjadi salah satu pemimpin kota di Indonesia ini (Amin). Buku ini pun tidak akan pernah selesai dari kreatifitas dan dukungan Budi Wahyono, seorang desainer penggemar Star Wars dan sepatu ini. Kesamaan hobi dan mainan kami berdua mungkin yang menjadi salah satu landasan bagi kami untuk bisa dengan cepat dan mudah mencapai kesepakatan dalam proses merancang tata letak dan cover buku ini. 

Akhirnya setelah proses yang panjang, buku bisa dicetak dan diperbanyak. Meskipun setelah dibaca ulang dan melalui proses proofread, saya menemukan ada kesalahan eja, dan ada kata-kata yang harusnya bisa lebih baik susunannya. Saya berharap ketidaksempurnaan tersebut menjadi bagian dari proses evaluasi berikutnya. Seperti dalam proses merancang suatu bentuk arsitektur, yang merupakan perjalanan berbentuk lingkaran besar dari proses pemograman, merancang, membangun, menempati dan evaluasi, saya pun berharap akan mendapat banyak evaluasi dan kritik dari anda. 

Sama seperti para mahasiswa yang datang ke kelas saya, saya pun masih seperti mereka, saya masih belajar dan semoga saya masih mau terus untuk belajar dan berbagi, dalam kegiatan perkuliahan dan juga menulis. Para mahasiswa inilah yang menjadi alasan utama kenapa saya menuliskan buku ini, sehingga apabila nanti mereka bertanya di kelas perancangan arsitektur, saya bisa menjawab,

“Kan sudah saya sampaikan dan tulis di buku… Sudah dibeli dan dibaca belum bukunya?” 

Sambil saya juga akan menjawab pertanyaan mahasiswa tersebut tentunya... :)

Terima kasih secara khusus kepada para mahasiswa arsitektur yang pernah dan yang akan berbagi kelas studio dengan saya, dan juga untuk para rekan sejawat, bapak dan ibu dosen, arsitek dan perancang, yang telah berbagi pengetahuannya baik di dalam maupun diluar kelas. Cerita, nasihat, kritik, masukan dan pengalaman kita bersama telah menghasilkan satu karya buku ini, dan semoga buku ini menjadi langkah awal untuk karya-karya berikutnya. 

Buku ini bisa dipesan secara online di Nulisbuku melalui link ini:
http://nulisbuku.com/books/view_book/7205/sketsa-perancangan-arsitektur-isbn



Workshop Designing Our Dream Home

Posted: Sunday, April 19, 2015 | Posted by Albertus Prawata | Labels: , , 1 comments



Jurusan Arsitektur Binus University mempersembahkan Workshop Designing Our Dream Home. 
Sabtu, 9 Mei 2015, pukul 09.00-17.00, ruang 311 Binus University, JWC Campus, Jl. Hang Lekir 1 No. 6 Senayan, Jakarta. 

Pembicara: 
Ren Katili 
Albertus Prawata 
Wendy Chandra 

Biaya workshop: Rp. 550.000,- 
Transfer ke Rekening BCA 527 150 5800 a/n PT WIDIA INOVASI NUSANTARA 
Pendaftaran melalui email ke aprawata@binus.edu (Nama, No Telepon & bukti pembayaran/ transfer pembayaran). 

Acara ini terwujud atas kerjasama Jurusan Arsitektur Binus University, Studio Arsitektropis, Mortar Utama, Conwood dan Phillips. 

Monochromatic Tokyo

Posted: Wednesday, April 1, 2015 | Posted by Albertus Prawata | Labels: , , 0 comments

Tokyo, the most populous city in the world, is estimated to have total population more that 38 million people. Density is certainly a major issue in Tokyo, but somehow the city has cope it very well. Housing, transportation, city life and its culture create harmonious bond that complete one another. The city seems does not to have a pause button, people moves so fast patiently and quietly. The greyish color of the city can not be avoided, the color scheme of its buildings, the fashion, and the cloudy days of the early spring blend perfectly...








Creativity As A Tool For A Better And Vibrant Community

Posted: Sunday, August 10, 2014 | Posted by Albertus Prawata | Labels: , , 0 comments

DSCF0978
I grew up and live in the urban environment of Jakarta, where open public spaces are scarce, traffic jam, air pollution and public services are beyond decent. However, I was lucky to have experienced to live in another cities such as Bandung, Sydney and Melbourne during my school days. These are big cities and they attract a lot of people to work, study and live. They do offer best education, work opportunities, great public spaces, recreational and leisure spots for its residence. Bandung, Sydney and Melbourne are some of the cities that offer great and vibrant atmosphere for its residence, and they are also aware that art and creativity can boost the urban life and the city economy. There are some routine events, some spaces and places within the city, where creativity become the generator for the urban lifestyle.
In May, I visited Hong Kong to see Art Basel, where the city of Hong Kong celebrated the month of Art, and we can see some of creative works being displayed in the corners of the city. I also have the chance to see its newly renovated PMQ building, and Comix Home Base. Both are renovated project of old buildings converted into a creative hub/space. Comix is located in Wan Chai neighborhood, it offers studio spaces for comic and animation artists. There are library that archives local comics and magazines, exhibition and workshop spaces and small shop. Comix certainly gives added value to the community, its spaces and programs bring a new color to the area. However, PMQ building is the one that stole my heart. It was the first government school in Hong Kong, and it was damaged in the Second World War. It was rebuilt as the Police Married Quarters for junior married officers, and it was left unused since 2000. In 2012, the government renovated the building that would be transformed into a creative industries landmark named “PMQ”, and it was open to the public in mid 2014. PMQ building is the home of Hong Kong creative talents and design industries. It provides a roof for local artists and designers to showcase their qualities and to build success in the international market. The programs consist exhibition place, plaza, cafes, restaurants, retail shops and design offices. It’s the paradise to search for inspiration and innovation. When fully completed, the building would certainly become one of the icons in Hong Kong, especially for its creative industries.
DSCF0970
It is clear that the government and local officials have a major role of creating creative atmosphere within its city. Creativity certainly can be a big impact for urban spaces, its communities and also the whole city. It would create a better economy for the city and its talents. Carnivals, festivals, night markets are some of the examples that routine being held in the big cities. It’s a good start to generate a creative atmosphere and lot of opportunities would open up for the residences and communities. These could be the embryos of creating creative hub and spaces as the tool to brighten up the city and urban life. LastJuly 2014, Creative Public Space Program created Jakarta Creative Festival in Kota Tua Jakarta. The 3-day event is also marked the anniversary of Jakarta. Its programs consist of entertainments, exhibition, seminars, presentations and arts installation. Located in the iconic location of Jakarta, the event became the meeting points of Jakartans. Lots of creative talents such as artist, designers, architects, students and residence are gathered having discussion, attending presentations and exhibitions. All around it was the festival for people, an event that truly missed in a city that increasingly run by capitalist developments.
It’s definitely good to have this kind of festival every week, but the effort must be enormous too. However, it is not hard and impossible to create creative movements and ambiences as generators for an urban lifestyle in our daily routine. Imagine if the support from the government, officials and developers are solid too. Buildings and projects such as PMQ building in Hong Kong, City Works Depot and Britomart in Auckland, Haji Lane in Singapore, or 798 Art Zone in Beijing are being built and developed within a city; it certainly would enlighten the new life of the city and its residence. Creative talents and communities would transform the spaces into something new that certainly would benefit everyone. It is the place where collaboration of creative minds would transform or brighten the lifestyle of a city and its residence. It’s a dream for me to have the quality of place and space such as PMQ building or 798 Art Zone here in Jakarta. However, it is also pointless to just wait and hope that officials or developers to act and fulfill my dream or many of you. Therefore, I do believe rather than having big creative events once a year, or waiting for developers and officials to act, small creative events that often being held regularly are also effective to sparks new creation and innovation, to create a vibrant urban life. It’s wonderful thing that here we have different creative communities such as Kopi Keliling, Ruang Rupa, Komunitas Salihara, Indonesia Berkebun, Belajar Desain, ONX Studio, Volume Factory, continually having creative events as a place for creative minds and innovators to collaborate and work together for a better and positive causes. Starting small is important rather than no action at all.
DSCF1272
DSCF1239
DSCF1235

Albertus Prawata dan Geliat Budaya Lokal di 2013

Posted: Tuesday, February 5, 2013 | Posted by Albertus Prawata | Labels: , , , 0 comments



Albertus Prawata, seorang pengamat kota sekaligus pengajar berbagi ide dan pandangan tentang arsitektur Jakarta di 2013 ini, sebuah pembahasan tentang alur tren yang akan berkembang di tahun ular air ini.
 
Beberapa saat yang lalu, Gubernur DKI, Joko Widodo pernah mengungkapkan idenya untuk mengangkat kembali budaya Betawi pada arsitektur kota. Pengaplikasiannya dikembalikan pada kreativitas arsitek sebagai pihak yang lebih mengerti tentang sistem dan teknisnya.

Menanggapi tentang tren arsitektur 2013, wacana ini jelas menjadi perhatian masyarakat. Albertus Prawata, memaparkan bahwa rasanya ini  jadi satu hal yang bisa dan perlu ditelaah lebih lanjut, apakah perlu Jakarta berorientasi Betawi? dan rasanya hal itu akan sulit dilakukan di kota Jakarta karena memang membutuhkan pembicaraan lebih lanjut. Sebuah diskusi  dan penelitian yang lebih dalam lagi mengenai apakah ornamen Betawi itu bisa dipadukan dalam arsitektur khususnya di kota Jakarta. Aplikasi budaya di beberapa kota memang sukses dalam membangun karakter budayanya. Alih-alih menyerap budaya Barat dan menirunya pada gedung kota, mereka justru mengolah budaya lokal yang sudah ada.

Arsitektur sekarang ini masih tetap mempertimbangkan faktor energi efisien, sebuah efisiensi untuk bangunan. Arah kesana tentunya akan lebih ditingkatkan karena setiap bangunan pastinya akan mengejar efisiensi itu tadi. Jadi kita tidak memboros konsumsi energi dan rasanya akan lebih melihat pada faktor kondisi kita.

Kalau kita lihat yang terdahulu, banyak kebijakan-kebijakan budaya Barat. Sekarang ini justru yang terlihat adalah adanya sebuah kerinduan, untuk apa kita meniru kebudayaan Barat? Kini kita punya konteks problem yang berbeda dengan Barat, jadi kenapa harus meniru mereka? Rasanya banyak sekali aspek yang bisa kita eksplor untuk mengedepankan arsitektur kita yang tentunya akan jauh lebih baik daripada sekedar meniru apa yang Barat sudah lakukan. Jadi rasanya aspek lokal tentunya akan menjadi tren di 2013.

Video: iDEA/Febrina Syaifullana

Save Bangka Island North Sulawesi, Indonesia

Posted: Saturday, December 29, 2012 | Posted by Albertus Prawata | Labels: , , , 1 comments

My rework design for #SaveBangkaNorthSulawesi.
Let's make a difference, and please do check out the website and find all the great ways you can help.

http://www.savebangkanorthsulawesi.org/


Photos: Save Bangka North Sulawesi Instagram photos