Pulang

Posted: Sunday, November 23, 2008 | Posted by Albertus Prawata | Labels:



“Adakah yang bisa saya bantu lagi?” jawab petugas konter tiket pemesanan itu. Lega, telah mendapat suatu kepastian, akhirnya jiwaku yang letih ini akan kembali. Suatu perjalanan telah kutempuh, yang mengharuskan aku untuk pergi meninggalkan tempat yang kusebut rumah.

Berada di suatu tempat asing, dan berjuang untuk menggapai mimpi dan suatu tujuan tidak mudah adanya. Pujian, harapan dan ketidaksempurnaan dalam perjalanan itu sering menghampiriku. Aku tidak sempurna, dan aku jauh dari sempurna. Aku bagai seorang mesin yang menunggu perintah untuk bertindak dan berbuat. Engkau yang kucinta dan kurindu, mencoba untuk mengerti akan hal itu.

Di siang yang cukup panas dan terik itu, aku tinggalkan gedung konter tiket sambil kukenakan kacamata hitam melindungi mataku dari silaunya sinar surya. Ingin kulepas kacamata itu, dan menikmati suasana dan saat-saat akhirku di kota yang indah ini. Kota yang telah memberikan pengalaman ruang dan waktu yang belum pernah kudapatkan sebelumnya. Pengalaman yang akan tersimpan dalam memoriku. Inilah hari ini, hari aku tahu aku akan pergi. Pergi bersama mimpi dan cerita untuk diwujudkan dan diceritakan. Seharusnya aku senang, aku bebas, aku pulang, sesaat lagi. Tidak terjadi adanya, kacamata hitam itu menjadi pelindung jiwaku dari tusukan sinar yang seakan mengoyak dan membakar jiwa ini. Sinar yang telah membakar mimpi dan cerita itu, sehingga tidak ada lagi yang dapat diwujudkan, tidak ada gunanya lagi untuk diceritakan. Aku bersembunyi dalam gelapnya ruang yang tercipta dalam jiwaku, ruang yang tidak ingin diketahui oleh orang disekitarku. Dibalik kacamata itu aku bersembunyi, aku menyendiri, aku terluka.

Matahari barat mulai menyapa gedung-gedung tinggi disekitarku. Bayangan-bayangannya menyapa langkah kaki yang mulai lelah menapak pada pengeras jalan setapak yang kulalui. Kaki-kakiku pun tahu, ini merupakan perjumpaan terakhir mereka pada jalan setapak itu. Rasa teduh dan sejukku juga mengucapkan perpisahan pada bayangan gedung-gedung tua indah itu. Jemari tanganku pun tak lupa mengucapkan selamat tinggal pada tombol pengatur lalu lintas di penyeberangan jalan. Saatnya pulang, kata mereka kepadaku. Aku terdiam, serasa tak ingin beranjak dari waktu itu. Takut, karena hatiku hanyalah berupa ruang hitam kosong yang terlindung oleh kacamataku.

Suasana yang dingin dan mencekam di senja itu, membuatku semakin takut. Takut untuk menyapa surya di esok hari. Aku tidak seperti kaki-kakiku, jemari tanganku dan bahkan tidak seperti rasa sejuk dan teduhku. Tidak! Mereka adalah bagian dari aku, tetapi mereka bukan aku yang utuh. Mereka akan segera berjumpa dengan jalan-jalan lama itu, tombol-tombol yang tidak bergerak , dan rasa sejuk yang melepaskan gerah di tempat yang kusebut rumah itu.

Angin sore mulai mengusik kulitku yang rapuh. Dengan mudah angin masuk menembus lapisan jaketku. Kurapatkan dekapanku dalam kantong-kantong jaket, dan kunaikan penutup jaket itu menutupi leherku. Perjalanan perpisahan ini telah mencapai akhirnya pikirku. Sesaat lagi aku akan berjumpa dengan sang purnama, dan mendengarkan irama musik yang akan dimainkan oleh angin malam dengan ranting dan dedaunan di taman ini, tempat dimana kamu sering menghabiskan waktumu. Di taman ini kuakhiri perjalananku sepanjang sore. Di taman ini, aku akan berpisah.

Bintang-bintang dan bulan di langit yang gelap menjadi temanku saat itu. Menunggu dengan penuh harap langkah kaki dan wujud dirimu yang kurindu. Di dalam ruang hatiku yg gelap dan sendu, aku menunggu sosokmu dari balik rerumputan dan pohon-pohon yang sedang bermain-main dengan angin malam ini. Nyanyian mereka mengiringi langkahmu yang anggun pada pasir-pasir halus di tepi taman itu. Pasir-pasir itu terlena akan hadirnya langkahmu, dan membiarkanmu menari dalam jiwa-jiwa kecil mereka. Betapa gembiranya mereka dapat merasakanmu, begitu juga aku. “Brahma…”, sebutmu memecah rasa rinduku.

Matamu berbinar secerah bulan pada malam itu, memancarkan hembusan cinta dalam hatimu. Rumput, daun dan butiran pasir di tepi taman pun ikut terpesona akan hadirmu malam ini. Saatnya pun telah tiba, ketika kau memanggilku dengan sebuah senyum di bibirmu. Hembusan angin serta nyayian daun dan ranting turut menyampaikan pesanmu. Tanpa kata-kata aku tahu, engkau ada dan mengasihiku dalam seribu bahasa. Penantianmu selama ini di taman itu telah sampai pada akhirnya. Dedaunan dan ranting-ranting serentak mengucapkan perpisahan padamu. Engkau tidak seperti biasanya malam ini, engkau tidak sabar lagi untuk melangkah kembali mengijakkan kakimu di rumput dan pasir taman itu. “Brahma”, bisikmu. Terdengar jelas kali ini suaramu merupakan suatu keyakinan dan kesadaran. Suatu kesadaran yang kau rasakan di ruang terdalam hatimu. Engkau mengerti, perjumpaan ini adalah perpisahan untukmu.

Aku mengangguk, mencoba untuk mengerti di dalam ketakutan dan kekosongan hati ini. Kuhirup nafas cinta sang Pencipta, mencoba untuk menerima kesadaran itu berserta nyanyian perpisahan dedaunan, ranting dan angin malam ini. Aku tahu kau masih ada dan menuju tujuan cita jiwamu. Jiwaku pun demikian, akan pulang esok, mencoba kembali menemukanmu di dalam nyanyian malam, bersama dengan hembusan angin yang akan selalu membawa rinduku.

Kau pun kemudian berpaling, membelakangiku, “Kemana kamu akan pergi?”
Ia menjawab, “pulang…”

Sosoknya mulai samar, dengan pasti ia melangkah menjauh meninggalkan ruang kosong hati ini.


Selamat jalan menuju tujuan mulia citamu, doaku bersamamu.
22/11/08

2 comments:

  1. a m u r said...
  2. "Being loved and to fall in love is an enjoyable journey"

    Lalu kapan kamu akan pulang?

    Kalau cinta kamu anggap sebagai perjalanan.

  3. Albertus Prawata said...
  4. hhhmmm, yes, iknow...i think i should change that...let me think..

    perjalanan itu tampaknya masih panjang...masih bnyak kota2 yang harus ku lihat, dan kurasa...tetapi mungkin engkau benar...sudah saatnya aku harus pulang...

    =p