Cerita buat sahabat

Posted: Monday, December 8, 2008 | Posted by Albertus Prawata | Labels:


You, come and go,
as easy as you leave your doorsteps.
Brothers and sisters,
someone that I don’t recognize.
On the edge of memories to come,
you strangers of my soul.

You are here again,
ready for my unsatisfied journey.
Giving so many colors that yet I need to see.
And now,
prepare to leave for another flight,
come and go, take me with you.

December sun is about to set,
as you are fading away from the road ahead.
Time for a final goodbye,
when I’m just about to welcome you tomorrow

SYD,151207

Terbangun dari tidur dan mendengar tetesan air hujan pagi. Kuhirup nafas panjang kebebasan di pagi kelabu ini, menyadari derasnya langit menangis. Hari masih terlalu pagi untuk sinar matahari menyapa masuk ruang tempat tidurku, dan awan abu pun tampaknya tidak menginjinkannya masuk juga. Selesai lah sudah, langit pun terbuai larut kehilangan dengan tangisannya di pagi ini pikirku.

Kemarin malam telah kita habiskan bersama suatu perayaan pembebasan ini. Dimana kita telah menuntaskan pikulan terakhir beban kita dalam mengumpulkan suatu alaman yang bernama ilmu. Beban pikulan yang telah kita bawa dari negeri dan rumah masing-masing, yang telah menjadi bekal selama ini. Suatu perjalanan telah ditempuh bersama untuk mencapai harta karun di piramida emas itu. Sepanjang waktu kita bersama-sama di dalam sempitnya ruang waktu dan beratnya beban pikulan di pundak. Engkau ada disana, terkadang di depan ku, di belakang ku, dan sering kali di sampingku.

Semenjak hari pertama tiba di tempat yg sekarang kita sebut rumah ini, sapaanmu memberi suatu warna harapan dalam tujuanku mencari harta karun itu. Hari dan malam terus berganti, begitu juga dengan udara dingin dan panas. Di dalam suka dan duka engkau tetap selalu dengan candamu, membuat hari-hari berlalu sangat cepat. Hingga pada saatnya telah tiba, pikulan beban akhir kita telah siap untuk diletakan, dan harta karun di dalam piramida emas itu telah berada dalam kantong-kantong baju dan celana kita. Hari itu telah berlalu dan dengan sukacita kemenangan, kita mengucapkan perpisahan, di malam yang lalu, dan di hari ini.

Hujan tak kunjung reda, satu jam lagi aku membuat janji untuk menemuimu di pintu gerbang dunia di rumah baru kita ini. Rasa kantuk ini segera hilang saat aku membersihkan tubuh dengan siraman air, menyiapkan ragaku untuk bersiap diri. Kukenakan pakaian yang dapat melindungi dari derasnya hujan, kusiapkan diriku menuju tempat yang akan membawamu jauh.

Kutiba lebih awal dari dugaanku. Di tempat inilah, aku sering melambaikan tangan mengucapkan perpisahan kepada kerabat, dan menunggu kedatangannya kembali. Salah satu tempat kesukaanku, saat aku dapat menjelajahi tempat ini. Menjadi subyek dalam prosesi untuk diberangkatkan. Pemandangan akan beberapa kapal yang terparkir di dermaga-dermaga itu terlihat sangat teratur, dengan berbagai macam warna penandanya. Terayun-ayun oleh belaian air di perutnya, membuatnya menari-nari dalam rintikan hujan pagi itu. Tarian kapal-kapal itu mempesonaku, ditambah dengan kesibukan dermaga yang memulai aktivitasnya.

Kulihat dirimu di kejauhan, kulambaikan tangan untuk mencuri perhatianmu. Dengan suatu isyarat kau memintaku untuk menunggu, selagi engkau membeli tiket untuk dapat melintasi laut luas itu menuju perjalanmu berikutnya. Setelah selesai, engkau menghampiriku. Waktu seakan berhenti, dan kuingin segera mempercepat prosesi ini. Seakan menunggu bel kelas dibunyikan yang tak kunjung berbunyi sebagai pertanda kelas telah usai. Di dalam waktu ini kita melihat kembali sisa jejak langkah yang telah kita capai menuju piramida itu, berharap kita masih dapat menceritakan hal itu suatu saat nanti.

Lega rasanya, setelah bel yang kunantikan itu berbunyi, begitu pengumuman akan keberangkatanmu diumumkan. Rasa ego ini begitu besar rasanya, menutupi memori akan keberadaanmu di waktu lalu. Dengan suatu jabatan tangan dan pelukan erat perpisahan, engkau melangkah menjauh. Perlahan dan pasti kusaksikan dirimu menghilang menjadi suatu titik, dan tak terlihat sama sekali. Suatu kehampaan menerpa raga ini, menyadari tidak adanya beban yang dapat dipikul bersamamu esok hari. Tidak ada cerita malam yang dapat kita bagi di kegelapan malam. Aku telah mengucapkan perpisahan padamu pagi ini, aku telah menyaksikanmu hilang melebur di dalam kerumunan orang-orang itu. Aku telah melihatmu menuju tempat yang baru, dan hanya satu permohonanku saat aku mengantarmu. Selamat jalan, sampai esok hari disaat aku akan menjemputmu kembali.

Untukmu teman, yang telah memberiku senyum tanpa pernah lelah untuk berbagi di sepanjang perjalanan ini.

071208

0 comments: