Separuhku untukmu

Posted: Tuesday, January 13, 2009 | Posted by Albertus Prawata | Labels:



Waktu menunjukan hampir pukul enam sore. Bulatan oranye pemberi terang bumi pun berpamitan, dan akan pergi melalui pintu samudra sore itu. Hamparan pasir yang luas mulai menyapa pelukan deburan ombak malam, dan saatnya kuucapkan perpisahan, hari ini hampir usai.

Pagi pun tiba, dan aku mulai berlomba dengan sinar fajar ke tempat yang akan membawaku terbang dari pulau nirwana ini. Tempat yang mempunyai kekuatan magis bagiku, tempat dimana pesawat-pesawat itu berlabuh. Surga bagi impian masa kecil dahulu, dikala bercita-cita menjadi seorang penerbang. Disanalah dapat kunikmati kemegahan mesin bersayap itu, dan menjalani suatu sensasi melayang bebas di lautan awan putih. Suatu pintu gerbang perpisahan dan juga kedatangan bagi yang kita cintai.

Prosesi untuk diterbangkan mulai kujalani dengan memasuki detektor keamanan, dan melaporkan kedatanganku kepada petugas, menyatakan aku siap diberangkatkan. “Tolong di sisi jendela”, permintaanku pada petugas itu agar aku dapat diberi tempat duduk pada sisi favoritku. Dengan duduk pada sisi jendela, aku akan berada pada dunia mimpiku, tempat dimana aku dapat menikmati birunya langit dan lembutnya awan putih. Tempat yang mendekatkanku pada sosokmu yang menjadi ujubku padaNya.

“Terima kasih”, kuucapkan pada sang petugas di belakang meja kerjanya, sesaat setelah aku mendapat konfirmasi dimana aku akan duduk pada penerbangan nanti. Aku mulai berjalan menuju ruang tunggu, ruang dimana aku akan dapat bertemu ratusan penumpang lainnya dan melihat pesawat-pesawat berlabuh, lepas landas dan juga mendarat dengan indahnya. Saat dimana aku akan mulai menerka tiap jenis dan tipe pesawat itu, dan berusaha untuk mengenalinya, melengkapi perbendaharaan ilmu yang tersekap dalam ruang ingatanku. Ruang inilah yang menjadi perjumpaan awalku pada sosok-sosok teman seperjalananku nanti. Banyak kulihat pengusaha, dengan pakaian rapih dengan tas kecilnya. Begitu juga dengan para turis dengan pakaian santai dan tas di pinggang mereka. Tidak ketinggalan juga para pengelana dan pencari mimpi-mimpi seperti diriku ini.

Membawaku pada awal cerita kita terdahulu, melihatmu dalam perkumpulan di suatu hari minggu yang cerah. Mengingatkanku pada suatu adegan layar lebar, dengan dialog yang mendunia, “you had me at hello…”. Aku mencoba mengenali dirimu dalam ruang tunggu di pertemuan terdahulu, kamu hadir dan menjadi pilihan hati ini untuk memujamu, dan mengajakmu menjadi temanku dalam perjalan itu.

Panggilan untuk menaiki pesawat mulai diumumkan, telah tiba saatnya untuk memulai perjalan impian ini pikirku. Perlahan dan pasti, kupastikan untuk tidak tergesa-gesa menaiki pesawat yang akan membawaku ke tempat yang kusebut rumah. Memasuki badan pesawat dengan sambutan senyum ramah para puteri-puteri udara, dan menuju tempat duduk yang telah tertera pada tiket kepergianku. Sempurna, dalam hati aku berkata. Tepat di belakang sayap pesawat, dan aku pun akan dapat melihat aktifitas sayap ini dalam penerbangan nanti. Sabuk pengaman kukenakan dengan cukup erat, dan tidak lama kemudian terdengar perintah kapten penerbangan ini untuk mengunci pintu-pintu pesawat pada staffnya. Diikuti oleh peragaan prosedur standar keselamatan apabila terjadi keadaan darurat, yang kemudian kulanjuti dengan sebuah prosesi doaku, memohon perlindunganNya.

Teringat kembali ke hari yang lalu, saat aku mengajakmu terbang dalam mimpi yang akan kita lalui bersama. Saat pertama kali kau genggam erat tangan ini, menuju awan mimpi. Bersama dengan doaku, kita juga siap untuk lepas landas menuju suatu senyum dalam ikatan perjalanan ini.

Pesawat pun mulai bergerak diikuti dengungan mesin jetnya. Perlahan dan pasti menuju jalur pacunya untuk mengudara. Dari lingkaran jendela, aku amati sayap itu mulai menaik turunkan flaps di sayapnya, sang kapten sedang memastikan semua berjalan dengan baik pikirku. Menuju landasan pacu, terihat bendera penunjuk arah angin berwarna merah. Terlihat angin bergerak ke arah berlawanan dengan arah lepas landas pesawat ini. Membawa ingatanku kembali kepada buku pintar masa kecilku, bertanya-tanya mengapa pesawat ini harus melawan arah angin untuk lepas landas. Terdapat jawabannya pada buku itu, tetapi tidak dapat kuingat lagi.

Sosokmu kembali hadir dalam penjara ingatanku, melihat kembali persamaan yang ada pada diri kita, di dalam perbedaan raga ini. Seperti bendera angin itu, memberikan tanda kemana aku akan membawamu pergi terbang di udara.

Landasan pacu terlihat panjang saat pesawat ini mulai memutar dan memposisikan badannya pada jalur yang tepat. Seperti jalan kita dahulu, terlihat panjang jalan yang harus ditempuh untuk dapat terbang tinggi dan menemukan satu tujuan yang kita cari bersama.Terdengar dengungan mesin jet pesawat yang semakin kencang, dan tak lama kemudian pesawat ini mulai bergerak dan semakin cepat menuju udara biru di langit luas. Dengan genggaman tanganmu, kita pun pernah merasakan berada di langit biru itu.

Tanda untuk mengenakan sabuk pengaman telah mati, tetapi tetap kupastikan aku mengenakannya selalu. Melihat keluar, awan putih dan birunya langit menjadi pemuas jiwa ini. Sosok indahmu hadir disana, melepaskan dahaga di hatiku. Dalam kesempurnaan jiwa putihmu, kukagumi dirimu dalam suatu janji dan ikatan yang pernah kita sepakati bersama. Terbang dan melayang menembus awan dan birunya langit, suatu senyuman telah kau hadirkan dalam singkatnya kebersamaan kita.

Melihat waktu setempat, memberikan tanda sebentar lagi pesawat ini akan mendarat. Awan putih telah berubah keabu-abuan dan terlihat sangat tebal di luar sana. Tanda mengenakan sabuk pengaman pun menyala kembali, diikuti oleh sebuah pengumuman oleh kapten pesawat, untuk segera bersiap mendarat. Guncangan mulai terasa ketika pesawat mulai menembus masuk awan tebal, dan guncangan yang keras pun tak lama menyusul. Sandaran tangan di kursi pun kugenggam dengan erat, dan alam ingatanku mulai dimasuki oleh tontonan di saluran televisi berbayar mengenai invistigasi kecelakaan pada pesawat-pesawat terbang, menakutkan! Guncangan itu kembali disusul oleh kejatuhan tiba-tiba oleh pesawat, mengingatkan kembali pengalaman menaiki roller coster dahulu. Ayo, kamu pasti bisa berbuat lebih baik dari ini, seruanku dalam hati memberti semangat pada sang kapten di ruang kokpit, mencoba mengusir rasa takutku. Perlahan dan pasti pesawat ini mulai mengatasi guncangan-guncangan tersebut, dan tidak lama kemudian terasa getaran yang cukup kuat menandakan roda pendaratan sudah dikeluarkan. Sebentar lagi sampai, pikirku, sambil kulihat keluar jendela, daratan terlihat semakin dekat.

Ketakutanku telah terulang kembali, ketika engkau melepaskan genggaman tanganku dengan air mata dan awan kelabu di hatimu. Suatu rasa yang tidak ingin dimiliki oleh setiap individu mana pun. Tetapi kita berdua tetap melangkah dan terbang menuju hari yang lebih indah esok harinya. Kehadiran jiwa putihmu membuka hati ini untuk bisa menyapa esok hari dengan suatu senyum, senyum yang selalu kurindu.

Flaps pada sayap di pesawat langsung terbuka keatas, untuk membantu pesawat ini mengurangi kecepatannya, saat pesawat ini menyentuhkan rodanya pada tarmac landasan. Pesawat pun telah mendarat dengan sempurna, dan berjalan pelan menuju tempat pemberhentiannya. Perasaan lega terasa membanjiri seisi pesawat, dan pesawat ini pun seakan merasakannya juga. Nada pengaktifan telepon genggam pun terdengar, penumpang disebelahku juga tidak mau ketinggalan mengaktifkan teleponnya. Keras kepala! Jawabku dalam hati. Apakah mereka tidak mendengarkan perintah untuk tidak mengaktifkan telepon genggam sebelum tiba pada ruang kedatangan? Mungkin mereka sudah tidak sabar ingin memberitakan kedatangan mereka pada yang dicinta. Melanggar peraturan mungkin tidak apa untuk hal itu, pikirku. Mungkin, itulah yang menjadi pikiran universal semua penumpang di pesawat ini.

Suatu senyum pun hadir, ketika puteri-puteri udara itu memberikan senyuman selamat jalan. Telah kuakhiri perjalanan udaraku, dan semakin dekat diriku menemuimu dalam pengharapanku. Aku telah sampai pada ruang kedatangan, ketika sosokmu kembali hadir dalam ruang mimpiku. Suatu harapan yang berkobar untuk menjumpaimu dibalik dinding kaca itu. Jiwa ini kembali resah dalam egoisme seorang putera manusia, dan dengan sapaanmu kuakhiri pencarianku berserah pada cinta kasih yang tulus.

Aku berjalan menuju pintu kaca itu, melihatmu dan berjalan menuju arahmu. Membawa raga dan separuh jiwa ini yang merindukanmu…




130109

*Terima kasih Nina, untuk kembali mengingatkan kenapa pesawat terbang harus lepas landas dan mendarat berlawanan dengan arah angin.

2 comments:

  1. a m u r said...
  2. Mata ngembeng sih Ber, tapi blum jatuh....
    Hehehehe....

    Kyknya, berarti banget puteri manusia itu...

  3. Albertus Prawata said...
  4. mata ngembeng apaan sih?...hhmm, puteri manusia itu...yah gtu dah...hahaha.