Feeling so good aja…

Posted: Tuesday, March 17, 2009 | Posted by Albertus Prawata | Labels:

Pada suatu hari minggu yang lalu, sebuah event tahunan yang bertaraf international kembali diselengarakan di Jakarta. Sebuah ajang festival musik yang berlabelkan jazz. Suatu festival besar, yang kali ini juga tidak luput dari kelebihan dan kekurangannya. Festival ini pun juga mendapatkan tempat yang khusus bagi pencinta musik di tanah air, terlihat dari antusiasme para pengunjungnya yang penuh sesak. Para penikmat jazz (begitulah media massa menyebutnya) dari berbagai kalangan tidak mau ketinggalan, dan larut dalam euforia tahunan itu.

Festival tersebut pun memiliki suatu nilai dan daya tarik yang sangat besar di kalangan masyarakat dan juga musisi nasional maupun international. Label jazz yang melekat pada festival ini, merupakan suatu aliran musik yang jarang mendapat perhatian khusus di tanah air, dan sering kali diindentikan musik bagi kalangan atas. Tema jazz yang diambil untuk festival musik ini juga menjadi suatu pertanyaan, banyak para performer dan musisi pada festival ini yang dikenal tidak mengusung aliran jazz pada musiknya turut tampil dan menjadi pengisi acara pada festival ini. Ketenaran performer tersebut tentunya menjadi suatu daya tarik sendiri, dan pembenaran akan kebesaran sebuah festival dan pesta sebuah pentas musik seharusnya tidak menjadi aturan yang strict pada suatu festival besar. Apakah sebutan penikmat jazz bagi para pengunjung festival tersebut sebagai sebutan yang tepat? Apakah nama festival tersebut sesuai dengan isinya? Apa arti sebuah nama?

Disaat yang bersamaan, di hari minggu, hari terakhir festival jazz tersebut, merupakan hari libur bagi masyarakat ibukota. Hari dimana kita akan menjumpai jalan-jalan utama yang sering kali macet dan padat pada hari-hari kerja, menjadi sangat lenggang. Suatu hari dimana pemerintah juga menetapkan hari car free day bagi ruas-ruas jalan yang selalu macet dan padat di hari-hari kerja, seperti di jalan Sudirman. Pada saat itu masyarakat dapat menikmati berekreasi dengan berjalan kaki, bersepeda ataupun bermain di tengah-tengah ruas jalan raya yang selalu padat pada saat hari kerja. Suatu pemandangan yang menyenangkan, dan melihat para pengguna jalan dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya tanpa adanya batasan roda-roda bermesin yang menginjak-injak jalanan itu. Suatu hari dimana para pengguna jalan, dan jalan itu dapat bernapas lega. Hari istirahat untuk semua.

Pada hari itu saya juga mendapatkan kesempatan untuk datang ke festival jazz tersebut, suatu acara yang ingin saya alami bersama dengan beberapa rekan teman. Suatu rencana telah disusun agar semua kegiatan hari itu dapat berjalan dengan baik, mengantisipasi padatnya pengunjung dan kegiatan yang akan dilakukan pada hari itu. Pagi hari telah terlewati setelah melakukan ritual keagamaan di bilangan selatan Jakarta, lalu saya berencana untuk menjemput teman di kawasan Cikini. Sepengetahuan saya, dan melalui pengalaman sebelumnya, jalan H.R. Rasuna Said adalah jalan tercepat yang dapat saya lalui untuk mencapai tempat tujuan. Setelah membelokkan mobil dari jalan Gatot subroto menuju jalan H.R. Rasuna Said, beberapa petugas polisi menutup jalur cepat jalan tersebut, dan memberi papan tulisan, maaf ada pengalihan arus. Sepintas saya berpikir bahwa mungkin ini ada hubungannya dengan kunjungan kenegaraan Presiden Republik Korea yang kebetulan juga mengunjungi Jakarta di akhir pekan tersebut. Lalu saya pun mengikuti petunjuk, dan juga kendaraan lainnya menuju Mega Kuningan dan setibanya di daerah Casablanca, saya baru menyadari bahwa jalan H.R. Rsuna Said ditutup dari jam 10 pagi sampai jam 2 siang, dengan alasan hari bebas kendaraan (car free day). Dengan rasa kesal yang luar biasa, saya pun mencoba mencari jalan alternatif yang hasilnya telah membuat saya kehilangan hampir satu jam di kawasan kuningan tersebut. Suatu pertanyaan besar dan mendasar muncul. Sejak kapan jalan HR Rasuna Said diberlakukan car free day? Dan mengapa sosialisasi itu tidak pernah ada pada media-media informasi? Mengapa disaat kota Jakarta telah mengadakan suatu pesta yang besar bagi industri musiknya hal ini tidak mendapat sosialisasi yang khusus?

Rasa kesal dan marah itu pun kembali merasuki akal pikir dan jiwa ini, yang kembali terusik dengan kesan “main-main” dan “mengada-ada”. Terlihat barrier pembatas untuk para pengendara motor yang seadanya. Begitu juga dengan tulisan untuk tidak menggunakan jalan tersebut. Seakan-akan, hal itu dibuat 1 jam sebelum jam pemberlakuan car free day di jalan HR Rasuna Said (Tidak terekam pada foto, tetapi terdapat papan penutup jalan yg bertuliskan hanya dengan menggunakan cat hitam dengan tangan). Suatu pemandangan yang sangat merusak dan mengganggu, dimana akhir-akhir ini pun Jakarta bagaikan menjadi tempat sampah yang besar, dengan adanya promosi-promosi kalangan tertentu yang memamerkan wajah-wajah dan sosok yang saya sendiri pun tidak pernah mengetahuinya. Suatu penghamburan materi yang sia-sia, yang kemudian hanya akan menjadi volume sampah yang sangat besar.




Suatu penyesalan dan kekhawatiran kembali hadir, sebuah jalan yang besar dan penting bagi transportasi di Jakarta pada hari itu di jam tertentu telah terputus, pada saat itu juga tidak terlihat masyarakat yang bermain-main ataupun berekreasi di ruas-ruas jalan H.R.Rasuna Said. Berbeda dengan keadaan pada saat car free day diberlakukan di jalan sudirman. Antusias masyarakat sangat besar, dan dapat dilihat dengan aktifitas yang terjadi pada saat itu. Suatu dasar dari sebuah pergelaran, acara atau event tertentu tentunya akan sangat bergantung pada media informasi. Apa yang terjadi pada pemberlakuan car free day di jalan H.R Rasuna Said? Banyak pengendara bermotor pun tidak mengetahui akan hal ini, sehingga banyak dari mereka pun mencoba masuk dan mengambil resiko dengan memasuki jalan-jalan kecil atau tikus. Hal ini tentunya dapat di hindari dengan adanya informasi yang sepadan dan jelas untuk mempublikasikan hal ini. Agar setiap aspek kalangan masyarakat dapat menikmati suatu keputusan ini secara bersama-sama. Para pengendara motor dapat mengantisipasi dan mencari jalan alternatif, dan masyarakat pun dapat menikmati pemberlakuan car free day ini di jalan tersebut seperti yang telah terjadi di jalan Sudirman yang menurut saya menjadi daya tarik tersendiri. Hal tersebut tentunya dapat diinformasikan dengan banyak cara. Berbagai macam media komunikasi telah hadir dan memanjakan kita semua. Salah satu informasi yang saya dapatkan yang memberikan informasi bahwa jalan H.R. Rasuna Said ditutup adalah pada jam 12 siang di salah satu siaran radio favorit. Begitu juga dengan hari-hari sebelumnya, saya juga berkali-kali melewati jalan tersebut, dan tidak menemukan informasi tulisan yang menyatakan jalan H.R Rasuna Said akan ditutup pada hari minggu itu. Mengingatkan kembali pengalaman tinggal di negeri benua paling bawah. Setiap kali ada pengalihan fungsi dan informasi yang bersangkutan dengan terganggunya aktifitas pada jalan raya tertentu, kita sudah dapat mengetahuinya, karena di jalan tersebut akan dipsangkan sebuah electronic board messanging paling tidak satu minggu sebelum hari Hnya. Sehingga para pengguna jalan dapat mengambil inisiatif dan dapat mengantisipasi perubahan tersebut. Suatu hal yang sangat disayangkan, kita mampu mencetak berjuta2 reklame gambar yang berisikan gambar-gambar; yang menurut pihak-pihak tertentu indah dan layak. Reklame yang bertujuan untuk mementingkan pihak-pihak tertentu, tetapi demi kepentingan dan kenyamanan bersama seluruh kalangan masyarakat, para petinggi kita tidak mampu menyediakannya.

Mengapa demikian? Suatu pertanyaan yang perlu kita ajukan dan tanyakan, dan mungkin bisa dijawab oleh para petinggi-petinggi pengambil keputusan pemberlakuan car free day tersebut.

Sebuah introspeksi diri, sebuah dasar-dasar yang telah terlupakan. Kita ingin segera berlari sebelum bisa merangkak, para anak-anak ingin segera menjadi dewasa dan dapat melakukan kegiatan orang dewasa pada umumnya. Seberapa pentingkah dasar-dasar dan tema suatu design dan wujud? Hal manakah yang harus didahului kepetingannya secara hirarki ruang, garasi atau ruang tidur? Suatu pertanyaan yang mungkin kembali membawa ingatan saya ke alaman terdahulu di sebuah konsultan desain, ketika suatu pertanyaan mengenai sebuah pattern yang akan menjadi acuan dalam desain sirip penangkal matahari dijawab dengan, “terserah kamu deh, feeling so good aja…”

Do you feel good about this?

0 comments: