garuda di dadaku

Posted: Thursday, December 23, 2010 | Posted by Albertus Prawata | Labels:

Pergelaran Piala AFF, suatu kompetisi sepak bola antar negara Asia Tenggara menjadi ajang yang menjadi sorotan besar di akhir tahun 2010 ini. Indonesia sebagai salah satu tuan rumah telah mengantongi 5 kemenagan berturut-turut untuk memastikan diri masuk ke final Piala AFF melawan Malaysia (26/12/2010 & 29/12/2010).

Sebagai salah satu pencinta sepak bola, keberhasilan tim nasional Indonesia merupakan suatu hal yang sangat membanggakan. Saya bukan seorang yang fanatik penggemar salah satu tim liga Indonesia, tetapi secara otomatis saya mutlak pendukung tim nasional Indonesia, dan pada setiap cabang olah raga tentunya.

Keberhasilan tim nasional Indonesia masuk ke final AFF dengan nilai dan rekor sempurna ( 5 kali menang) menjadikan tim nasional Indonesia menjadi sorotan publik. Politik dan infotainment juga tidak luput “menebeng” tim nasional kita untuk mendapatkan “rating” dan popularitas kepentingan pribadi. Keberhasilan Firman Utina dan kawan-kawan, menuai pujian dan iming-iming bonus yang dijanjikan dari pihak-pihak tertentu, yang saya kira hanya untuk menaikan popularitas pihak tertentu.

PSSI induk organisasi sepak bola Indonesia, yang memiliki ketua organisasi sepak bola berstatus koruptor, jelas jauh dari professional dalam menyelenggarakan turnamen ini. Terlihat dari pendistribusian tiket yang sangat-sangat merugikan masyarakat yang ingin menonton langsung ke stadion GBK. Spanduk-spanduk yang memberikan dukungan kepada tim nasional Indonesia juga tidak kalah memalukan. Ada satu spanduk yang bertuliskan kurang lebih ; “Bambang, Irfan, Yongki, Gonzalez serang lawanmu bagai eksoset!” Ingin mengomentari panjang lebar mengenai spanduk buatan PSSI yang satu ini, tapi ya sudahlah…

Salah satu orang terkaya Indonesia, yang memberikan bonus yang cukup “spektakular”, dimana sangat tidak masuk akal dengan mudahnya dia memberikan bonus kepada tim nasional, tetapi banyak korban-korban dari kelalaian salah satu perusahaan miliknya belum mendapatkan ganti rugi. Di hati kecil saya berharap, bahwa pahlawan-pahlawan lapangan hijau kita ini bisa dengan berbesar hati menolak bonus-bonus tersebut seperti yang pernah dilakukan oleh beberapa tokoh penting Indonesia, yang menolak menerima penghargaan dari nama yang terkait erat dengan kasus lapindo tersebut.

Tidak lupa juga dengan adanya oknum pengacara yang tentunya hanya mencari popularitas dengan melakukan gugatan kepada PSSI dan Presiden RI untuk mencabut lambang Negara, Garuda, di jersey tim nasional. Ingin meludahi muka orang ini rasanya.

Infotainment yang terus menerus mensorot tim nasional Indonesia dari materi dan sudut pandang yang “kosong”. Apa mungkin karena ada sosok Victoria Beckham want to be?

Begitu juga dengan euphoria mendadak tim nasional, yang saya alami dan rasakan ketika menyaksikan tim nasional berlaga di GBK pada saat melawan Filipina di semi final leg ke 2. Baru kali itu saya melihat animo kaum hawa di Indonesia yang sangat luar biasa untuk menyaksikan sebuah laga pertandingan sepak bola, dimana perpaduan hot pants sampai dengan celana bermotif macan berpadu dengan jersey kebanggaan tim nasional bisa dijumpai hari itu. Tidak ketinggalan juga dengan komentar “tetangga” yang duduk di belakang saya berkomentar sebelum pertandingan dimulai, “Jadi ini peraturannya bagaimana…?”
Pada akhirnya peraturan pertandingan sepak bola malam itu jadi tidak penting bagi dia dan saya sendiri, karena tim nasional Indonesia memetik kemenangan 1-0, dan memastikan melaju ke final piala AFF.



Sekarang mari berbicara tentang sepak bola.

Setelah melihat pembantaian 7-1 oleh tim nasional Uruguay yang merupakan salah satu laga uji coba sebelum putaran piala AFF berlangsung, saya pesimis terhadap keberhasilan tim nasional Indonesia di piala AFF. Ternyata keraguan itu dihapuskan dengan kemenangan demi kemenangan yang dihasilkan tim nasional. Saya tidak menyangka pola permainan 4-4-2 yang diperagakan oleh Firman Utina dan kawan-kawan berjalan dengan baik sekali. Alfred Riedl, pelatih kepala tim nasional dengan luar biasa berhasil menerapkan pola disiplin yang sangat baik kepada pemain tim nasional. Liverpool pun rasanya harus belajar banyak bagaimana cara mempraktekan pola 4-4-2 dari pelatih asal Austria ini.

Saya memperhatikan, pemain tim nasional Indonesia sering sekali kehabisan stamina seiring pertandingan berlangsung. Hal ini mengingatkan kondisi fisik saya sendiri dimana dahulu pun dalam bermain bola semasa kuliah, saya dengan semangatnya selalu rajin membantu menyerang ke depan. Tetapi begitu kehilangan bola, saya tidak punya tenaga lagi untuk membantu pertahanan. Tentunya pemain tim nasional tidak bisa disamakan dengan saya, atau mungkin kebalikannya, apa saya sudah pantas bermain untuk tim nasional?

Tetapi di piala AFF ini, stamina pemain tim nasional kita meningkat sangat jauh. Kehabisan stamina di babak ke 2 sudah bisa diatasi. Permainan menekan setiap kehilangan bola sangat baik dipraktekan. Dua gelandang sayap, M.Ridwan dan Okto selalu rajin melakukan penetrasi-penetrasi. Full back, Nasuha dan Zulkifli juga rajin membantu serangan dan cepat kembali ke posisinya. Begitu juga dengan peran Ahmad Bustomi dan Firman Utina yang menjadi jangkar , yang sangat disiplin mengatur ritme dan serangan tim nasional. Ahmad Bustomi langsung menjadi pemain favorit saya. Perannya mengingatkan saya akan Xabi Alonso yang sekarang bermain untuk Real Madrid. Peran Bustomi dalam menjemput bola dan menjadi pemutus serangan lawan berhasil ia jalankan dengan baik. Tidak dilupakan juga dengan peran new kids on the block, Irfan Bachdim dan Christian Gonzales. Irfan sangat aktif dan menurut saya dia bermain luar biasa pada saat melawan Malaysia di petandingan pertama. Dia tidak pernah berhenti mengejar bola, usahanya tersebut berbuah sebuah gol ke gawang Malaysia. Gonzalez sangat matang dari segi pengalaman, dan dengan pengalamannya itu dia berhasil menjadi top scorer sementara di turnamen ini. Bambang Pamungkas dan Yongki juga tidak kalah berperan dalam keberhasilan tim nasional. Senioritas dan ketenangan Bambang terbukti pada saat melawan Thailand, serta pergerakan Yongki pada saat melawat Filipina juga cukup baik. Satu-satunya yang menjadi kekhawatiran saya terletak pada penjaga gawang yang ditempati oleh Markus. Dalam beberapa pertandingan dia melakukan blunder yang mengakibatkan terjadinya peluang yang dapat menghasilkan gol kepada pihak lawan. Semoga di ke dua partai final nanti dia bisa lebih fokus dalam menjalankan tugasnya.

Dengan rapor tersebut, tentunya Indonesia jelas menjadi favorit untuk memenangkan partai final piala AFF dan menajadi juara pertama kalinya sejak turnamen ini digelar. Bangsa dan masyarakat Indonesia tentunya ingin melihat tim nasional Indonesia menjadi juara piala AFF, dan saya yakin hal itu terbuka sangat lebar. Tetapi saya sangat tidak ingin melihat keberhasilan tim nasional Indonesia, menjadi ajang pamer dan disamakan juga dengan keberhasilan pihak-pihak tertentu. Bagaimana dengan anda?

Sampai berjumpa pada pertandingan final piala AFF dengan batik, seragam merah putih, hot pants atau celana motif macan anda baik di GBK atau di rumah pribadi masing-masing. Menang atau kalah nanti mari kita lindungi Garuda di dada kita dari oknum-oknum pencari popularitas itu.

0 comments: