Sukacita, Setia, Sabar, Sederhana, Saling berbagi

Posted: Tuesday, December 27, 2011 | Posted by Albertus Prawata | Labels:



25 Desember, Natal pun tiba di tahun 2011 ini. Hari yang menyejukan hati karena dapat merenungkan semangat kerendahan hati dan sukacita bersama dengan orang-orang terdekat. Hari itu duduk bersama dengannya di kursi kayu sudut Gereja, aku mulai merenungkan tahun yang hampir berganti ini. Suka dan duka pernah kualami di tahun ini, dan begitu banyak hal yang ingin kuulang dengan harapan agar bisa memperbaiki hal-hal tertentu yang terjadi di tahun ini. Perenungan itu pun berlanjut ketika aku mendapatkan sebuah renungan yang singkat tetapi benar-benar membuat hari itu menjadi lebih berwarna. Romo Kokoh Pr. membawakan renungan yang didasari oleh lima S, sukacita, setia, sabar, sederhana dan saling berbagi. Dan inilah lima S tersebut dari sudut pandangku.

Sukacita. Hari-hari baru harus selalu kita hadapi dengan sukacita. Karena inilah hari baru untuk berkarya untuk diri sendiri dan sesama disekitar kita. Hari ini perayaan Natal, dimana Yesus telah datang sebagai seorang bayi. Suatu harapan, suatu cinta dan suatu keyakinan baru telah hadir.

Setia. Sebuah kata yang keramat khususnya di masyarakat modern sekarang ini. Sepertinya begitu mudah untuk diucapkan, tetapi menjalankannya benar-benar sesuatu yang tidak mudah. Setia tidak selalu dihubungkan dengan hubungan antara sepasang kekasih ataupun suami dan istri. Tetapi setia juga berlaku pada pekerjaan kita, pada komitmen untuk bisa menyelesaikan suatu tugas dan pekerjaan.

Sabar. Kata ini sangat menjelaskan suatu kalimat; "semua akan indah pada waktunya". Josef, seorang pemuda memiliki rencana untuk menikahi Maria ibu Yesus. Tetapi ia pun mengetahui bahwa Maria telah mengandung dari Roh Kudus, dan Josef pun berniat untuk meninggalkan Maria. Kecewa dan marah, itulah mungkin yang dirasakan Josef. Tetapi ia tetap sabar, dan pada akhirnya ia menikahi Maria, dan mendampingi Maria dari melahirkan sampai membesarkan Yesus. Sabar, dan terus berkeyakinan kuat untuk suatu kebaikan tentunya nanti hasil yang diinginkan akan didapatkan. Hal ini kembali mengingatkan akan bebrapa peristiwa yang telah terjadi, dimana kalimat keramat ini pun (anda pasti tahu kalimat ini) sangat tepat menggambarkannya; "kalau jodoh tidak akan kemana". Aku mengalaminya, dan beberapa kali diberi kesempatan untuk menjalaninya. Meskipun pada akhirnya...kamu (tetap saja) menemukan yang lebih baik (Atau kamu telah melewatkan yang terbaik, yah pembenaran dan penghiburan diri saja ini sepertinya...hehehe). Aku pun juga menjadi saksi dan diberi kesempatan untuk merasakan keberadaan orang-orang terdekatku, yang dengan sabar dan berkemauan keras mereka pada akhirnya bisa mendapatkan dan mengejar sesuatu yang diimpikan.

Sederhana. Terlihat dekorasi natal di sudut depan Gereja yang menggambarkan suasana suatu kandang di Betlehem kira-kira 2000 tahun yang lalu. Seluruh tempat penginapan menolak Maria dan Josef, sampai akhirnya Maria harus melakukan persalinan di sebuah kandang binatang (mungkin pada saat itu berfungsi sebagai kandang keledai). Bayi Yesus pun ditidurkan diatas palungan (tempat makan dan minum binatang), dan hal inilah yang menjadi suatu misteri Ilahi. Ia yang besar direndahkan dan menjadi kecil, dan dengan kesederhanaan, kerendahan hati dan semangat untuk melayani sesamaNya akan menjadikan Ia besar dan mulia. Hal ini kembali mengingatkan kepada obrolan yang pernah aku lakukan bersama seorang sahabat, dan tepat sekali tebakan anda kalau perbincangan kami menyangkut masalah percintaan (mungkin ini menjadi suatu tanda bahwa begitu banyak kegagalan dalam divisi yang satu ini. Mungkin bukan kegagalan, tetapi proses pembelajaran. Loh kok seperti penghiburan diri lagi ini?). Kegagalan untuk menjalin suatu hubungan yang istimewa yang berujung pada patah hati bukanlah suatu hal yang baru. Berbagai alasan dan analisa-analisa muncul setiap kali kegagalan ini hadir dalam hidup kita. "Seharusnya tidak usah main hati", "seharusnya bisa selalu berada bersama dia di saat-saat itu", dan berbagai macam kesimpulan lainnya. Iya, kita harus menggunakan hati kita untuk menjalin suatu hubungan. Iya, kita harus bisa berkorban dan melihat kepentingannya untuk didahulukan. Karena itu juga, kita juga harus bisa mencintai dengan tulus, memberi tanpa memikirkan apa yang akan kudapat? Memiliki semangat melayani dan berkorban. Di dalam kesederhanaan itulah akan hadir suatu keindahan, dan dengan keyakinan dan harapan itulah kita akan mencapainya.

Saling berbagi. Hal ini mengingatkan akan cerita orang tuaku dahulu. Mereka menyampaikan, bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini, semua akan kembali menjadi tanah dan abu. Apa yang kita miliki harus disyukuri, dan begitu banyak sesama kita yang belum tentu bisa menikmati apa yang kita miliki. Berbagi tidak selalu harus dihubungkan dengan sesuatu yang bersifat materi. Dengan melakukan suatu karya, dengan memberikan pemikiran kita ataupun dengan menyisihkan waktu kita untuk sesuatu hal juga merupakan suatu aksi untuk berbagi.

Ke lima S ini memberikan suatu renungan yang mendalam, terutama di tahun 2011 ini. Tahun yang baru akan segera datang dalam hitungan hari, dan ke lima S ini pun rasanya sangat tepat sekali untuk aku jadikan sebagai landasan dalam berkarya untuk tahun yang baru nanti. Dengan semangat yang penuh sukacita, semangat untuk setia, semangat untuk bersabar, semangat untuk bersikap sederhanda dan semangat untuk saling berbagi; aku ingin karyaku bisa membuat aku bahagia, berguna dan dapat membantu sesamaku, dan dapat memuliakan namaNya.

Selamat Natal bagi anda yang merayakan, semoga kita semua selalu dilimpahi damai kasih, dan semangat menjalankan lima S!

0 comments: