Mimpi Yosef

Posted: Thursday, April 26, 2012 | Posted by Albertus Prawata | Labels:

Akhir minggu telah tiba, dengan segala acara dan kegiatan yang telah menanti untuk dilakukan. Hari itu, aku berkesempatan untuk pergi ke negara tetangga, untuk menghadiri sebuah acara teman lama, dan untuk sekedar pergi sejenak dari rutinitas kota Jakarta. Perjalanan kurang lebih selama 1,5 jam di dalam pesawat akan menanti, dan tanpa berpikir panjang aku pun merencanakan akan membawa dan membaca buku Paulo Coelho yang berjudul Like the Flowing River. Buku yang telah menjadi salah satu favoritku sampai dengan hari ini, karena berisi cerita-cerita singkat dari kehidupan dan pengalaman sehari-hari sang penulis.

Lampu untuk mengenakan sabuk pengaman sudah padam dan para pramugari pun bersiap untuk membagikan snack untuk para penumpang. Aku pun masih mengaggumi buku baru favoritku itu, dan sampailah pada cerita yang berjudul, The Man Who Followed His Dream. Pada cerita itu, Coelho bercerita tentang Santo Yosef, suami Maria, ayah Yesus. Paulo lahir di rumah sakit Sao Jose (Santo Yosef), Rio de Janeiro, Brazil. Proses kelahiran Paulo tidak berjalan lancar, dan ibunya berdoa dan meminta keselamatan kepada Santo Yosef untuk keselamatan dirinya. Sejak tahun 1987 setiap tanggal 19 Maret, Paulo mengajak keluarga, teman dan kerabat dekatnya untuk berkumpul mengadakan pesta. Paulo juga mengajak mereka berdoa untuk orang-orang lain yang telah bekerja keras, dan selalu berusaha mencapai sesuatu hal yang paling baik bagi diri mereka sendiri dan orang lain.

Sebelum berdoa, Paulo bercerita mengenai mimpi. Di dalam Alkitab perjanjian baru, tercatat hanya ada 5 kata mimpi. Empat kata mimpi tersebut dinyatakan dengan mereferensikan Yosef, si tukang kayu. Pada cerita-cerita tersebut, Yosef selalu diperintahkan oleh malaikat ketika sedang tidur dalam mimpinya, untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan rencana-rencana yang akan ia lakukan. Dalam mimpinya, malaikat memerintahkan Yosef untuk tidak meninggalkan Maria yang sedang hamil. Padahal Yosef bisa saja pergi karena takut tentang apa yang akan dikatakan oleh orang lain, kalau mengetahui Maria telah hamil. Malaikat juga memintanya untuk pergi ke Mesir. Ia juga bisa tidak mengikuti perintah malaikat tersebut, karena punya pekerjaan sebagai tukang kayu, dan punya penghasilan yang tetap. Tetapi Yosef menuruti perintah tersebut, dan pergi meninggalkan rumahnya. Lalu malaikat datang lagi melalui mimpinya untuk kembali dan pergi meninggalkan Mesir. Yosef bisa saja menolak, karena telah memiliki pekerjaan baru, dan ada keluarga yang harus ia nafkahi. Tetapi Yosef tetap melakukan segala hal yang bertentangan dengan logikanya dan mengikuti mimpi-mimpinya.

Yosef tahu bahwa ada tujuan yang harus dia kerjakan dan capai. Sebagai seorang laki-laki dan ayah, ia punya tanggung jawab dan kewajiban untuk mendukung keluarganya. Dan sebagai seorang Yosef, ia berjuang dan berusaha untuk menyelesaikan tugas-tugas yang dipercayakan padanya, meskipun semua itu diluar kenyamanannya. Dengan aksi-aksi yang dilakukan Yosef yang mengikuti mimpi-mimpinya, pada akhirnya, Maria, istrinya dan Yesus, putranya telah menjadi pondasi iman Kristiani. Sedangkan Yosef dikenal sebagai pilar ketiga, pekerja tukang kayu yang ceritanya hanya terdengar pada saat Natal.

Paulo kemudian mencantumkan sebuah artikel yang ditulis oleh Carlos Heitor Cony untuk menutup ceritanya,

People are sometimes surprised that, given my declared agnosticism and my refusal to accept the idea of a philosophical, moral or religious God, I am, nevertheless, devoted to certain saints in our traditional calendar. God is too distant a concept or entity for my uses or even for my needs. saints, on the other hand, with whom I share the same clay foundations, deserve more than my admiration, they deserve my devotion.

St. Joseph is one of them. The Gospels do not record a single word spoken by him, only gestures and one explicit reference: vir justus - a just man. Since he was a carpenter and not a judge, one must deduce that Joseph was, above all else, good. A good carpenter, a good husband, a good father to the boy who would divide the history of the world.

Beautiful words...

Selesai membaca cerita tersebut, aku terdiam, merasa tertampar. Dalam iman Katolik ada Sakramen yang dinamakan Sakramen Krisma. Dalam sakramen ini, sang penerima Sakramen akan menerima simbol Minyak Krisma, sebagai tanda perutusan siap untuk berkarya sebagai orang beriman. Pada saat penerimaan Sakramen Krisma, aku masih duduk di kelas 1 SMP. Para penerima Sakramen Krisma juga akan diberi nama Krisma, dan harusnya kita dapat memilih sendiri nama tersebut. Tetapi tidak pada saat itu, semua laki-laki yang menerima Sakramen Krisma hari itu ditentukan bahwa Yoseflah yang akan menjadi nama Krisma kami. Sedangkan yang perempuan akan diberi nama Maria. Suatu kekecewaan besar karena aku sudah memikirkan ingin memiliki nama Michael untuk dijadikan nama Krismaku (Nama Krisma akan diletakan setelah nama Baptis). Nama Michael terdengar keren, seorang Malaikat pelindung dan ia juga pemimpin Malaikat tentara surga. Who doesn't want to be like Mike? (Jargon iklan komersial Michael Jordan). Betapa kecewanya sampai aku harus mendapatkan nama Yosef sebagai nama Krismaku. Karena yang aku tahu pada saat itu cerita mengenai Yosef adalah pada saat Natal saja, dia tidak pernah memimpin perang melawan setan, tidak memiliki pedang seperti Malaikat Michael. Yosef jelas kalah keren dibandingkan sang Malaikat. Terasa lebih bagus dan keren rasanya membaca Albertus Michael Galih Prawata. Setidaknya itu yang aku pikirkan dahulu, tetapi semua itu berubah diatas pesawat di hari itu, pada ketinggian beratus-ratus kilometer dari permukaan tanah setelah membaca cerita yang berjudul The Man Who Followed His Dream.

Yosef tahu, ia berada di dunia untuk memenuhi tujuan hidupnya. Banyak dari aksi yang Ia lakukan tidak sesuai dengan logika dan kenyamanan yang Ia harapkan. Semuanya itu akhirnya berubah dan menjadi jelas pada akhirnya karena Yosef telah mengikuti mimpinya. He followed His dreams, and I shall too, follow my dreams.


Albertus Yosef Galih Prawata

0 comments: